Jurnalisme solusi merupakan terobosan baru untuk sampaikan kabar negatif dengan tetap menumbuhkan optimisme bagi pembaca. Dok: The Dana Mariner.

JIB | Jakarta,- Dalam mengkomunikasikan program suatu organisasi (lembaga/perusahaan), terkadang ada unsur himbauan dan larangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menghindari hal negatif. Mengkomunikasikan hal demikian melibatkan data yang bersifat negatif pula. Ini terkadang menyulitkan humas untuk membuat kampanye kehumasan.

The Conversation mengambil contoh dari tindakan Bill Nye, seorang komunikator sains populer di Amerika Serikat. Bill Nye hendak mengkomunikasikan bahaya perubahan iklim untuk kehidupan manusia. Dalam acara Last Week Tonight With John Oliver, ia tiba-tiba menyalakan api ke sebuah bola bumi.

Sebagaimana yang dilakukan Bill Nye, berita-berita perubahan iklim yang beredar di tengah masyarakat selalu diikuti dengan peringatan bahaya seperti kebakaran hutan, naiknya permukaan air laut, dan sejumlah bencana lainnya. Pesan-pesan yang berisi ancaman seperti itu memang perlu disampaikan untuk menangkap perhatian publik. Namun, di sisi lain, penekanan pada bencana-bencana yang terjadi ini dapat membuat masyarakat merasa tidak berdaya dan putus asa untuk melakukan perubahan.

Jadi, rasa khawatir bukan motivator yang efektif untuk mendorong publik melakukan tindakan, demikian disampaikan oleh kelompok riset Climate Acces.

Pendekatan Baru

Menanggapi hasil riset Climate Access ini, tercetuslah pendekatan komunikasi yang dapat digunakan dalam memberitakan permasalahan rumit seperti perubahan iklim. Yakni jurnalisme solusi. Jurnalisme solusi tidak hanya melaporkan masalah yang terjadi, namun fokus mengkomunikasikan upaya masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menjawab masalah tersebut.

Berita yang dihasilkan oleh jurnalisme solusi berupa berita yang menunjukkan solusi apa saja yang berhasil dicapai dan bukti konkretnya. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan minat publik terhadap permasalahan yang sedang terjadi, demikian seperti dilansir dari www.theconversation.com (15/07/2019).

Pendekatan jurnalisme solusi mencoba keluar dari batasan bahwa semakin banyak fakta yang diketahui publik, maka mereka akan lebih peduli. Profesor hukum dan psikologi di Yale Law School, Dan Kahan, dalam sebuah risetnya menemukan, bahwa kurangnya kepedulian seseorang lebih berkaitan dengan keyakinan dan nilai yang dianut. Maka, cara yang efektif untuk membuat publik terlibat adalah memanfaatkan nilai-nilai yang dianut oleh kebanyakan orang.

Contohnya, dalam jurnalisme solusi tentang perubahan iklim, yang digambarkan adalah upaya orang biasa yang dapat membuat perubahan. Misalnya tentang konsumsi makanan lokal dan dampak kesehatannya, penghematan energi dengan beralih ke solar cell, dan lain-lain. Ini akan lebih jelas menggambarkan tentang perubahan yang dilakukan dapat bermanfaat bagi lingkungan hidup. Cara komunikasi ini menggarisbawahi pentingnya aksi kolektif dan mobilisasi. Berbeda dengan pemberitaan konvensional yang cenderung berdasarkan aksi individu.

Prinsip yang sama juga dapat diterapkan dalam perancangan kampanye kehumasan mengenai isu serupa. Misalkan penegakan ketertiban dan keamanan masyarakat, pembuatan iklan layanan masyarakat, dan lain-lain. Sampaikan pesan dengan cermat agar dapat melibatkan publik secara efektif untuk membuat perubahan. Gunakan pendekatan berbasis solusi sambil tetap memaparkan urgensi informasi, dan gunakan alasan seseorang untuk terlibat atau tidak terlibat. (Dre)

Sum: Hm Indonesia