JIB | Cikarang Timur. Siti Sopiah, penderita penyakit yang terus membesar pada bagian mata hanya bisa pasrah dan mengurung diri menahan malu dalam kesehariannya. Karena penyakit yang di deritanya tak kunjung sembuh bahkan terus semakin membesar. Mata sebelah kirinya sudah tidak berfungsi bahkan kian membesar menjalar memanjang kedepan menutupi sebagian wajah dan bagian hidungnya.

Wanita kisaran umur 40 tahun beranak dua ini tinggal dalam rumah sangat sederhana di kampung Pegadungan Rt/Rw. 01/06 kelurahan Serta Jaya kecamatan Cikarang Timur kabupaten Bekasi sudah sangat miris dan prihatin dengan kondisi yang di alaminya. Padahal wilayah tinggalnya banyak gudang – gudang perusahaan milik para orang kaya setempat dan sangat dekat dengan zona industri tapi seolah acuh dan tak perduli dengan kondisi yang di alaminya bahkan para pejabat atau para anggota dewan pun seolah tutup mata.

Abidin suami Sopiah yang kesehariannya sebagai pekerja harian lepas di salah satu gudang besi tua sudah tidak berdaya untuk mengobati istrinya karena terbentur biaya.

Bersama warga bernama “Aris Jabrig, Ustad Taufik dan Erwin Hermawan” ketika menjenguk dikediaman Sopiah, Rabu (26/09/2018) kepada wartawan, Abidin bercerita, ‘selama 7 tahun ini saya sudah berusaha kemana – mana untuk mengobati istri saya. Semua harta benda yang saya miliki sudah habis saya jual. Bahkan rumah yang kami tinggali ini pun sudah mulai saya tawar – tawarkan untuk saya jual guna pengobatan istri saya. Ungkap Abidin sambil sesekali mengusap air matanya.

Masih kata Abidin, “sebenarnya di hati ini saya sudah ga percaya kalo ada orang datang melihat istri saya sambil moto – moto ngambil gambar katanya mau dibantu untuk berobat. Dulu waktu zamannya Bupati Neneng nyalon lagi waktu ada Ahmad Dani sebenarnya pihak puskesmas dan bu Camat Ani pernah rame – rame datang kemari dan mengusahakan berobat ke rumah sakit Cipto Jakarta. Tapi ga sampai tuntas. Bahkan katanya semua biaya sudah dirinci sampai Enam Ratus Juta dan di sampaikan ke Bupati. Tapi Bupati tidak menyanggupinya. Sedangkan saya hanya buruh harian, buat makan sehari hari aja kalau saya ga bekerja maka kami ga makan. Ungkapnya.

Abidin melanjutkan, “setelah berobat ke Cipto tidak ada perubahan, banyak yang menyarankan di bawa ke rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. Disana diminta data waktu berobat ke Cipto. Tapi pihak Cipto tidak memberikan. Saya sudah pusing pasrah, lalu saya bawa pulang dan sempat berobat ke beberapa alternatip, tapi tidak ada perubahan malah kian hari terus membesar. Sampai hari ini istri saya hanya saya belikan obat herbal seharga delapan ratus ribu. Dan sudah beberapa hari ini saya belum kuat beli lagi. Katanya.

Saya berharap, dan terus berdoa, kalo bisa Gubernur bapak Ridwan Kamil atau mungkin Presiden, atau siapapun orang dermawan, saya minta tolong bantu untuk berobat istri saya. Kadang saya ga tega, tiap hari istri saya tidak pernah keluar rumah, malu dengan mukanya. Rintih Abidin dengan penuh harap sambil menyudahi percakapannya. (Taufik/Toyang)