JIB | TARAKAN- Hari lahir atau hari Ulang tahun ke-96, Nahdhatul Ulama (NU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tarakan dengan tema “Merawat Kebhinnekaan di Bumi Paguntaka” dan Harlah kali ini diisi dengan zikir bersama dan tablig akbar bersama Habib Alwi Habsyi Bin Abu Bakar Al-Muhdor pimpinan Pondok Pesantren Ribathus Shalihin Lumajang dan Kiai Slamet Basuki dari Jombang Jawa Timur. Minggu (18/03/2019), kemarin lusa.

Acara kegiatan yang digelar para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tarakan tersebut berlangsung di halaman Masjid Al Maarif Kota Tarakan, di meriahkan oleh para jama’ah dan para habib se-kota Tarakan di hari lahirnya NU ke-96

Harlah tersebut dihadiri oleh Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul. M.Kes, Kapolres, Dandim 0907, Ketua MUI, Kepala Kantor Kemenag, pengurus wilayah NU, ketua dan segenap pengurus PCNU, Badan Otonom (Banom) NU serta warga nahdiyin NU se-kota Tarakan.

Habib Alwi Habsyi Bin Abu Bakar Al-Muhdor dalam ceramahnya memberikan ukhuwah islamiah kepada seluruh umat muslimah terutama organisasi kewanitaan seperti Fatayat NU dan muslimat yang menurutnya wanita merupakan salah satu kekuatan keluarga maupun bangsa, serta peran penting di masyarakat.

“Sehingga program misi dan visi organisasi kewanitaan yang ada di Kubu NU harus mampu mengakar dan memberikan manfaat pada masyarakat secara luas dan utuh” ucapannya.

Masih kata Dia kalau dilihat dari Sejarah Islam banyak tokoh wanita memberikan peran penting dalam keteladanan di peradaban Islam seperti Sayidatina Aisyah RA, Rabiah Al-Adawiyyah, dan sebagainya untuk di tiru dan contohkan untuk kaum hawa.

Di sisi lain KH Slamet Basuki dalam isi tausyiahnya bahwa Habib Alwi Habsyi Bin Abu Bakar Al-Muhdor memberikan penyegaran rohani dan penguatan kepada seluruh jama’ah NU di Kota Tarakan agar tidak terpengaruh dan gampang terpicu oleh provokasi pihak yang tak bertanggung jawab. Mengingat kondisi masyarakat yang plural, tentu perbedaan itu ada, namun bukan untuk dijadikan bahan perdebatan akan Tetap sebagai hikmah dan bahwa islam universal.

“NU adalah salah satu teguh dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dan memiliki ciri khusus tersendiri. Ciri tersebut sebagai pembeda antara penganut Aswaja lainnya’ Jelas kepada media Jurnal Indonesia Baru.

KH Slamet Basuki juga, NU adalah golongan yang senantiasa berpedoman pada ajaran Rasulullah dan para sahabat, tata cara peribadatan yang dilakukan pun berdasarkan dalil sohih baik Alquran maupun hadis ditetapkan secara final dan tak perlu terpengaruh dan memperdebatkan.

Tempat terpisah Ketua PCNU Kota Tarakan, Drs. KH. Abd. Samad, Lc memaparkan, dalam kegiatan tersebut pihaknya mengumpulkan seluruh kaum nahdiyin dalam kegiatan di Harlah ini. Demi mengenang dan memperingati lembaran sejarah lahirnya NU, peran serta kiprah para pendahulu yang turut memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berangkat dari konsep besar Islam sebagai rahmatan lil alamin, Islam harus mengedepankan kasih sayang dalam bermuamalah dan bermasyarakat.

“NU ada sebelum negara ini dibentuk, saat ini tinggal bagaimana agar kita termotivasi mengembangkan peradaban Islam di negara ini yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian keadilan, toleransi yang menjadi ciri khas ajaran Ahlussunah waljamaah,” ujarnya.

Tempat yang sama Sekjen Pengurus Wilayah NU Kaltara Alwan Saputra, yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan, warga nahdiyin di Kota Tarakan harus mampu berkontribusi dengan pemerintah dalam pembangunan segala bidang dan menjadi pelopor bagi masyarakat.

“Warga Nahdiyin harus cerdas dalam memfilter informasi, mengingat pemilu sudah tinggal hitungan hari jangan sampai terpecah belah akibat perbedaan pilihan.” Jelasnya

Wali Kota Tarakan dr.H.Khairul, M Kes mengatakan acara Harlah NU ke-96 sangat mengapresiasikan atas peran serta warga NU dalam pembangunan di kota Tarakan. Mampu bertahan selama 96 tahun sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, tentu kehadirannya pun memiliki peran penting dan dapat dijadikan tolok ukur kualitas masyarakat.

“Di hari yang sangat bersejarah ini dapat dijadikan bahan introspeksi, baik untuk organisasi maupun pribadi. Sudah seberapa besar kontribusi kita dalam pembangunan negara ataupun organisasi sendiri. Semoga dengan bertambahnya usia, maka kontribusi yang diberikan juga semakin baik dan bermartabat” Tutupnya. (Red)