JIB | TASIK – Beberapa penanganan kasus terorisme yang terjadi di Kota Tasikmalaya cenderung terpaku kepada terduga yang ditangkap aparat. Sedangkan kondisi keluarga yang terkena dampaknya seakan luput dari perhatian. Hingga saat ini, sedikitnya belasan orang warga Tasikmalaya yang ditangkap karena diduga terlibat dengan jaringan teroris. Mereka ada yang masih dalam proses penyidikan, atau sudah mendapatkan vonis dari pengadilan.

Semua terduga yang ditangkap tersebut memiliki keluarga (anak dan istri, Red), yang otomatis ikut terkena dampak dari apa yang menimpa suami atau ayah mereka. Berbagai permasalahan pun harus mereka hadapi, khususnya perekonomian. Karena suami mereka yang menjadi tulang punggung keluarga tidak bisa memberikan nafkah.

Berdasarkan keterangan dari Sdr. AH, salah satu orang yang sering mendampingi keluarga terduga teroris asal Tasikmalaya untuk melakukan besuk, para keluarga teroris merasa menyesal pernah terlibat dan merasa terkucilkan.

“Meskipun mereka tidak terlibat langsung, tapi tetap ada perasaan waswas terhadap pandangan masyarakat, bahkan merasa menyesal” ujarnya.

Kondisi tersebut, berdampak kepada perekonomian keluarga di mana mereka terkendala dalam mencari nafkah untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Jangankan bekerja atau berwirausaha, untuk keluar rumah pun mereka harus mempersiapkan mental.

“Jadinya lebih sering diam di rumah masing-masing,” terangnya.

Sesekali memang ada sedekah dari warga yang peduli terhadap kondisi mereka. Namun hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab mereka tidak bisa hanya mengandalkan pemberian dari orang lain.

“Saat ini mereka (keluarga terduga teroris, Red) lebih mengandalkan sedekah dari kerabat atau warga di lingkungannya,” tuturnya.

Untuk membantu mereka pun tidak semudah memberi santunan kepada warga miskin. Karena mereka sangat tertutup dan sulit menerima kehadiran orang baru, meskipun tujuannya positif.

“Sering ada yang mau bantu secara langsung tapi mereka menolak, jadi harus difasilitasi oleh orang yang mereka percaya,” jelasnya.

Di sisi lain, dia berharap keluarga para terduga teroris bisa kembali berbaur dengan masyarakat dan bangkit secara ekonomi memberdayakan potensi yang ada. Masyarakat juga ke depan harus saling menjaga satu sama lain dalam menjalani kehidupan.

“Perlakukan mereka seperti masyarakat lainnya, tidak perlu membeda-bedakan,” katanya (red)