Tuesday, May 12, 2026
Home Blog Page 36

Pengelola PKBM Rahmatun Najah Diduga Bungkam, Abaikan Keterbukaan Informasi Publik

0


JIB | Karawang – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan lembaga pendidikan nonformal yang dikelola oleh tenaga kependidikan untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat. Namun, mirisnya, pengelola PKBM Rahmatun Najah yang berlokasi di Dusun Bugis Selatan RT 002/001, RT 2/1, Desa Tanahbaru, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, diduga enggan memberikan informasi terkait jumlah siswa saat dikonfirmasi oleh media.

Jurnalindonesiabaru.com telah mencoba menghubungi pengelola PKBM tersebut melalui pesan WhatsApp, namun tidak mendapatkan jawaban. Sikap bungkam ini menimbulkan pertanyaan, mengingat informasi tentang kegiatan dan jumlah peserta didik di lembaga pendidikan termasuk dalam informasi yang seharusnya terbuka untuk publik.

Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, setiap badan publik termasuk lembaga pendidikan wajib menyediakan dan memberikan informasi yang diminta oleh masyarakat, selama tidak termasuk kategori informasi yang dikecualikan.

Menyikapi hal tersebut, Sekertaris Umum Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Masyarakat Indonesia (DPP GMI), Asep Saipulloh, turut menyoroti persoalan tersebut. Ia mengatakan bahwa sikap tertutup seperti ini justru dapat menimbulkan kecurigaan publik terhadap akuntabilitas lembaga pendidikan.

“PKBM sebagai lembaga pendidikan yang dibiayai oleh negara melalui berbagai program harus transparan. Jika diminta data jumlah siswa saja sudah bungkam, ini mencederai prinsip keterbukaan dan akuntabilitas,” ujar Asep Saipulloh kepada jurnalindonesiabaru.com, Selasa (13/05/25)

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PKBM Rahmatunnajah belum memberikan klarifikasi resmi. Publik berharap agar pengelola PKBM lebih kooperatif dan memahami pentingnya transparansi dalam dunia pendidikan, terlebih menyangkut hak masyarakat untuk tahu. (Red)

Tambak Ikan Lele di Desa Telukbango Mulai Berbenah demi Keberlanjutan

0


JIB | Karawang – Tambak Ikan Lele yang terletak di Dusun Tengah 1, RT 01/01, Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, mulai menjalani pembenahan dan evaluasi menyeluruh. Langkah ini diambil untuk mewujudkan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, serta memberi dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.

Pembenahan mencakup perbaikan sistem sirkulasi air, pengelolaan limbah tambak, dan penggunaan pakan alami guna mengurangi polusi lingkungan. Selain itu, pendekatan baru dalam pengelolaan tambak juga mendorong partisipasi aktif warga dalam kegiatan budidaya.

“Tambak ini bukan hanya soal produksi lele, tapi juga bagaimana kami menjaga lingkungan tetap bersih dan masyarakat bisa lebih sejahtera tanpa merusak alam,” ujar Kacum, pengelola tambak yang akrab disapa Mio.

Upaya ini mendapat dukungan dari pemerintah desa dan kelompok petani ikan. Mereka berharap tambak yang dikelola dengan prinsip modern dan ramah lingkungan ini dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Karawang.

Salah satu warga, Nimol, mengaku senang dengan adanya perubahan tersebut. “Kami senang karena sekarang tambak ini dikelola lebih baik. Selain bisa ikut bekerja, kami juga mendapatkan tambahan penghasilan,” tuturnya.

Dengan pembenahan yang dilakukan, tambak ikan lele di Desa Telukbango diharapkan mampu menjadi sentra budidaya ikan air tawar yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan. (Sul/Ey)

Data Siswa PKBM di Bekasi Diduga Digelembungkan, DPP Bakal Laporan APH

0


JIB | Bekasi – Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Masyarakat Indonesia (DPP GMI) berencana melaporkan sejumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Bekasi kepada (APH) Aparat Penegak Hukum.

Langkah tersebut diambil menyusul dugaan adanya praktik penggelembungan data siswa yang dibiayai melalui dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dari Pemerintah.

Sekertaris Umum DPP GMI, Asep Saipulloh, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan sejumlah indikasi bahwa data siswa yang disampaikan oleh beberapa PKBM jumlah siswa tidak sesuai dengan progres sinkronisasi data resmi.

“Kami menemukan adanya perbedaan signifikan antara data yang disampaikan PKBM kepada pemerintah dengan data hasil sinkronisasi. Ini patut dicurigai sebagai upaya penggelembungan untuk memperoleh dana BOSP yang lebih besar,” ujar Asep kepada wartawan, Minggu (11/05/25).

Asep menambahkan, temuan ini akan segera dilaporkan ke APH dan instansi terkait agar dilakukan investigasi lebih lanjut. Ia juga mendesak pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan untuk meninjau ulang sistem verifikasi data siswa pada PKBM.

“Ini bukan hanya soal administrasi, tapi juga menyangkut integritas lembaga pendidikan nonformal. Negara bisa dirugikan dan masyarakat kehilangan kepercayaan,” tegasnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PKBM yang diduga terlibat. (Red)

VOKASI SIAP BIMBING JURNALIS BERKOMPETENSI

0

JIB | KABUPATEN BEKASI,- Pengukuhan nama VOKASI (Vokal Komunitas Jurnalis Indonesia) secara resmi dilaksanakan dalam sebuah acara yang berlangsung di Hotel Ibis Styles, Cikarang, sore tadi. Momen penting ini dihadiri oleh berbagai tokoh, mulai dari Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Sukron, S.H., M.Si, hingga Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar, S.E. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Akhmad Marjuki, S.M., M.M. dan Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Bekasi Raya, Ade Muksin, S.H., serta tokoh pergerakan di Kabupaten Bekasi, Dr. Anwar Musyadad, S.H., M.H., bersama sejumlah tokoh jurnalistik dari tingkat kabupaten hingga nasional.

Dalam pengukuhan ini, setiap tokoh yang hadir menyampaikan harapan dan dukungan mereka terhadap VOKASI. Ade Sukron, dalam sambutannya, menekankan pentingnya peran jurnalis dalam menciptakan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. “Semoga VOKASI dapat menjadi wadah yang produktif bagi para jurnalis untuk berkarya dan menyajikan informasi yang berkualitas kepada masyarakat,” ujarnya.

Sunandar juga berharap, peran VOKASI kedepan mampu menjadi ruang baru bagi para pelaku jurnalistik untuk bisa menyajikan muatan berita dalam membuka ruang literasi publik.

Senada dengan itu, H. Akhmad Marjuki juga berpesan VOKASI bisa memainkan peran sentral dalam mengembangkan profesi jurnalistik di Jawa Barat. “Kami berharap VOKASI tidak hanya menjadi komunitas, tetapi juga dapat berkontribusi dalam membangun informasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” katanya.

Ketua PWI Bekasi Raya, Ade Muksin, S.H., menambahkan bahwa keberadaan VOKASI diharapkan mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh jurnalis di era digital saat ini. “Dengan adanya komunitas seperti VOKASI, kita bisa saling berbagi pengetahuan dan menjaga etika jurnalistik agar tetap terjaga,” tuturnya.

Tokoh pergerakan Kabupaten Bekasi, Dr. Anwar Musyadad, S.H., M.H. juga mendukung peran penting seniman tulis untuk bisa bersinergi membangun kualitas tulisan yang berkualitas. “Saya senang jika nanti rekan-rekan semua mampu menyajikan karya jurnalistik yang memang obyektif dan mampu menyajikan ruang informasi yang konkret dan akurat,” harapnya.

Acara pengukuhan ini menjadi momentum bagi para jurnalis untuk bersinergi dan saling mendukung dalam meningkatkan kualitas berita serta membangun kepercayaan publik terhadap media. Dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak, VOKASI diharapkan dapat menjadi pilar dalam pengembangan jurnalisme yang profesional di Indonesia, khususnya di wilayah Bekasi.

BOOMS Berharap Dana Hibah di Alokasikan Untuk Progam Bela Negara

0



JIB | Bandung Barat,-.  Di tengah ramainya permintaan dana hibah dari berbagai kelompok masyarakat kepada pemerintah daerah, sebuah inisiatif berbeda muncul dari gabungan Barisan Ormas, OKP, LSM, dan Mahasiswa (BOOMS). Lewat agenda bertajuk “BOOMS Peduli”, mereka menyampaikan komitmen kuat terhadap isu sosial dan pendidikan strategis di wilayah KBB.

Acara tersebut berlangsung di kompleks perkantoran Pemkab Bandung Barat pada Jumat, 9 Mei 2025, sekaligus menjadi momen resmi deklarasi keberadaan BOOMS di hadapan publik dan pemerintahan daerah.

Salah satu poin utama dalam kegiatan ini adalah diskusi terbuka melalui forum Focus Discussion Group (FDG) dengan tema *“Quo Vadis Pendidikan di KBB: Antara Harapan dan Realita”*. Diskusi ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan KBB sebagai narasumber utama dan digelar di ruang pertemuan Bakesbangpol KBB. Forum ini menjadi ruang kritis untuk mengevaluasi kondisi pendidikan lokal serta merumuskan arah kebijakan yang lebih solutif.

Tak sekadar berdiskusi, BOOMS juga menggelar aksi sosial dengan membagikan bantuan sembako ke panti jompo yang berada di area Masjid As Shiddiq, lingkungan Pemda. Aksi ini menegaskan semangat organisasi untuk bergerak nyata dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Pernyataan yang paling mencuri perhatian datang dari Pupuhu BOOMS, Didin Suhendar. Ia secara tegas menyampaikan bahwa BOOMS menolak menerima hibah dari pemerintah. Menurutnya, proses pencairan hingga pertanggungjawaban dana hibah rawan menimbulkan masalah administratif, baik bagi penerima maupun instansi pemerintah.

*”Kami memilih tidak menerima hibah karena risikonya besar. Laporan keuangannya harus rinci, dan jika terjadi kekeliruan, bukan hanya penerima yang terdampak tapi juga pemerintah serta Kesbangpol saat diperiksa BPK,”* ujar Didin.

Sebagai gantinya, ia mengusulkan agar dana hibah dialokasikan untuk program pendidikan bela negara dan pembinaan karakter, khususnya untuk organisasi kemasyarakatan dan pemuda.

Gagasan tersebut ia sampaikan langsung kepada Sekretaris Daerah KBB yang hadir mewakili Bupati, bersama Plt. Kepala Bakesbangpol.



*”Saya tidak datang untuk meminta hibah. Justru saya ingin pemerintah fokus membina lewat pendidikan karakter dan bela negara. Ini senada dengan visi Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, yang menekankan pentingnya pendidikan berdisiplin tinggi bagi anak-anak dan organisasi masyarakat,”* jelasnya.

Didin juga menegaskan bahwa deklarasi ini bukan upaya mencari panggung, melainkan bentuk legalisasi dan peneguhan arah organisasi yang sudah eksis selama tiga tahun, kini dilengkapi legalitas dari Kemenkumham dan Kesbangpol.

*”BOOMS bukan alat pencitraan. Kami ingin organisasi ini bergerak dengan jelas dan terarah. Legalitas kami sudah kuat, dan ini saatnya untuk melangkah lebih tegas,”* tuturnya.

Menutup pernyataannya, Didin mengingatkan para anggota agar tidak menyalahgunakan nama organisasi untuk kepentingan pribadi, apalagi melakukan intimidasi terhadap instansi pemerintah.

*”Jika ada yang mengaku-aku BOOMS untuk hal negatif, jangan ragu laporkan ke Satgas Premanisme atau aparat hukum. Kami tidak akan melindungi. Harus ada sanksi tegas,”* pungkasnya.

Deklarasi ini menjadi angin segar bagi dinamika organisasi masyarakat di Bandung Barat.

BOOMS tampil sebagai simbol perubahan, dengan mengusung nilai integritas dan komitmen terhadap pendidikan sebagai jalan utama pembangunan masyarakat.


(Wawan Gunawan /Onot)

Pemdes Cibuaya Gelar Musdesus Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, Dorong Kemajuan Ekonomi Masyarakat

0


JIB | Karawang – Pemerintah Desa Cibuaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, resmi membentuk Koperasi Desa Merah Putih melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) yang digelar di Aula Kantor Desa Cibuaya, Kamis (08/05/25).

Musdesus ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian musyawarah yang sebelumnya telah dilakukan bersama tokoh masyarakat dan berbagai elemen desa.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Cibuaya, H. Ita Warsita, menegaskan bahwa pembentukan koperasi ini lahir dari aspirasi warga demi mendorong kemajuan ekonomi masyarakat desa.

“Musdesus ini hasil kesepakatan bersama yang sebelumnya telah dimusyawarahkan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta elemen lainnya. Koperasi Desa Merah Putih ini kami harapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi warga,” ujar H. Ita Warsita.

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Muspika Kecamatan Cibuaya, Pendamping Desa, BPD, PKK, Perangkat Desa, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Serta Pendamping Koperasi dari Dinkop Kabupaten Karawang.

Pembentukan koperasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong semangat kemandirian masyarakat desa.

Koperasi Desa Merah Putih yang nantinya akan bergerak di berbagai sektor, termasuk perdagangan, pertanian, dan layanan simpan pinjam. (Sul/Amr)

Sopyan Sahuri Terpilih Sebagai Ketua Koperasi Desa Merah Putih di Kedungjaya

0

JIB | Karawang – Pemerintah Desa Kedungjaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) dalam rangka pembentukan Koperasi Desa Merah Putih pada Kamis (08/05/25).

Kegiatan tersebut berlangsung di aula Kantor Desa Kedungjaya dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta instansi terkait.

Dalam Musdesus tersebut, Sopyan Sahuri terpilih sebagai Ketua Koperasi Desa Merah Putih. Ia dikenal sebagai sosok yang berkompeten dan memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan ekonomi desa.

Kepala Desa Kedungjaya, Tarjan Sujana, S.Pd, mengapresiasi seluruh peserta yang telah hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi semangat dan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat dalam Musdesus ini. Ini adalah langkah awal yang baik untuk membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi desa,” ujar Tarjan Sujana.

Acara ini turut dihadiri oleh Dinas Koperasi Kabupaten Karawang, Muspika Kecamatan Cibuaya, Pendamping Desa, BPD, Perangkat Desa, PKK, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta perwakilan lembaga lainnya.

Sopyan Sahuri menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin koperasi ini.

“Amanah ini akan saya emban dengan sungguh-sungguh. Koperasi Desa Merah Putih diharapkan bisa menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat Desa Kedungjaya,” ungkapnya.

Dengan terbentuknya Koperasi Desa Merah Putih, diharapkan dapat menjadi wadah yang memperkuat ekonomi warga, membuka peluang usaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara kolektif. (Sul/Amr)

Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, Langkah Nyata Peningkatan Ekonomi Masyarakat Desa Kertarahayu

0

JIB | Karawang – Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) dalam rangka pembentukan Koperasi Desa Merah Putih telah dilaksanakan di Aula Kantor Desa Kertarahayu, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, dengan melibatkan berbagai unsur penting masyarakat dan pemerintahan setempat.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil kesepakatan yang telah dicapai melalui musyawarah bersama. Koperasi Desa Merah Putih resmi dibentuk dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Desa Kertarahayu.

Hadir dalam acara ini perwakilan dari Dinas Koperasi Kabupaten Karawang, unsur Muspika Kecamatan Cibuaya, Pendamping Desa, BPD, Perangkat Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Serta Elemen Lembaga lembaga Desa lainnya.

Kepala Desa Kertarahayu, H. Suheri, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar koperasi ini dapat menjadi wadah yang benar-benar bermanfaat bagi warga.

“Koperasi Desa Merah Putih ini bukan sekadar simbol, tapi wadah nyata untuk menggerakkan perekonomian warga. Kami berharap partisipasi aktif dari masyarakat untuk menjalankannya dengan transparan dan profesional,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Koperasi Kabupaten Karawang, Agus Vasa, SE, juga mengapresiasi inisiatif ini. “Pembentukan koperasi desa seperti ini sangat kami dukung, karena merupakan bagian dari penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Dengan terbentuknya Koperasi Desa Merah Putih, diharapkan masyarakat Kertarahayu dapat lebih mandiri secara ekonomi serta menciptakan peluang usaha yang lebih luas di tingkat desa. (Sul/Ey)

Polemik Pemangkasan BPMU: Sekolah Swasta dan Masyarakat Desak Solusi Bersama

0

JIB | Karawang – Polemik pemangkasan anggaran Bantuan Pendidikan Menengah Universal (BPMU) untuk sekolah swasta pada tahun 2025 memicu reaksi beragam dari berbagai pihak, mulai dari legislatif, aktivis masyarakat, hingga para pengelola pendidikan.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kebijakan tersebut. Ia menilai pemotongan BPMU akan memperburuk kondisi sekolah swasta yang selama ini sudah berjuang menjaga mutu pendidikan dengan keterbatasan anggaran.

“Kebijakan ini tidak sejalan dengan visi peningkatan mutu pendidikan Jawa Barat. Kalau sekolah swasta diberi beban lebih tanpa dukungan memadai, siapa yang akan menanggung dampaknya? Tentu siswa dan guru,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Namun, kritik tersebut ditanggapi berbeda oleh Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Karawang (GEMPAR), Mulyadi, yang menyayangkan sikap anggota dewan yang menurutnya lebih memilih menyampaikan keluhan ke publik ketimbang menggunakan jalur resmi pengawasan.

“Kalau memang ada kebijakan gubernur yang dianggap tidak tepat, gunakan hak kontrol sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Jangan hanya membuat gaduh tanpa solusi konkret,” tegasnya, Selasa (06/05/25).

Menurut Mulyadi, tanggung jawab pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada eksekutif. “Pendidikan adalah urusan bersama. Wakil rakyat seharusnya jadi bagian dari solusi, bukan sekadar komentator,” tambahnya. Ia juga menyatakan dukungan terhadap reformasi sistem yang tengah dijalankan pemerintah provinsi.

Di sisi lain, kekhawatiran nyata datang dari lapangan. Seorang kepala sekolah swasta di Karawang, yang meminta identitasnya disamarkan, menyebut bahwa pemotongan BPMU membuat sekolah kesulitan menutup biaya operasional dasar.

“Kami mendukung program pemerintah, tetapi faktanya, dana bantuan sangat penting untuk kelangsungan operasional sekolah. Kami dihadapkan pada dilema: mempertahankan mutu atau menekan biaya,” ujarnya.

Guru-guru juga mulai angkat suara. Seorang guru SMA swasta di wilayah Karawang menyatakan bahwa kesejahteraan guru justru semakin terpinggirkan. “Kami dituntut profesional, tapi honor sangat minim. Kalau guru terus diperlakukan seperti ini, bagaimana pendidikan bisa maju?” katanya dengan nada prihatin.

Di tengah tarik ulur kebijakan, masyarakat berharap agar ada titik temu antara pemerintah daerah dan DPRD. “Kami ingin pendidikan tetap terjangkau dan berkualitas. Kalau terus begini, anak-anak kami yang jadi korban,” ungkap Rina, salah satu orang tua siswa di Karawang.

Berbagai pihak menyerukan perlunya dialog terbuka dan kebijakan yang berpihak pada semua elemen: sekolah, guru, dan siswa. Harapannya, keputusan anggaran pendidikan ke depan tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga humanis dan adil. (Sul/Red)

Pemdes Jayasakti Gelar Musdesus untuk Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Jayasakti

0



JIB | Bekasi – Pemerintah Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) pada Rabu (07/05/25) dalam rangka pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Jayasakti, sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan dan memberdayakan potensi lokal.

Kegiatan yang berlangsung di aula Kantor Desa dihadiri oleh Kepala Desa Jayasakti beserta jajaran perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok usaha dan warga setempat.

Dari hasil musyawarah menghasilkan kesepakatan bersama untuk mendirikan Koperasi Desa Merah Putih Jayasakti sebagai wadah kolektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Kepala Desa Jayasakti, Patori, mengatakan bahwa pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Jayasakti merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi desa berbasis partisipasi masyarakat.

“Pembentukan Koperasi adalah langkah awal kita untuk memperkuat perekonomian desa. Koperasi ini akan menjadi wadah usaha bersama yang transparan dan bermanfaat bagi seluruh warga,” ujarnya.

Dalam Musdesus tersebut, juga dibentuk tim formatur yang bertugas menyusun struktur kepengurusan awal serta menyiapkan dokumen legal sebagai syarat pendirian koperasi.

Rencananya, Koperasi Desa Merah Putih Jayasakti akan memfokuskan kegiatan usaha pada sektor-sektor yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat desa, seperti pertanian, perikanan, dan UMKM.

Kegiatan ditutup dengan penandatanganan berita acara oleh seluruh peserta sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendirikan koperasi yang diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi Desa Jayasakti di masa mendatang. (Sul/Red)

Stay connected

20,120FansLike
2,493FollowersFollow
14,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -